Sunday, May 16, 2010

Sabar..

Sesungguhnya iman itu terdiri atas dua bagian: sebagian sabar dan sebagian syukur. Keduanya merupakan dua sifat dari sifat-sifat Allah Ta’ala dan dua nama dari al-asmaa-ul-husnaa, dimana Dia menamakan Diri-Nya dengan nama ash-Shabuur dan asy-Syakuur. Maka kebodohan terhadap hakikat sabar dan syukur, sebenarnya adalah kebodohan daripada sifat-sifat Dia Ta’ala.

4 jenis/tingkat sabar

1. Sabar dalam menunaikan tanggungjawab sebagai hamba Allah.
Seperti sabar untuk menunaikan solat berjemaah di masjid disebabkan kadang2 ada pengaruh kawan2 utk tidak ke masjid, malas untuk ke masjid disebabkan iman yg berkurang, sbgnya. Maka jika terus bersabar untuk menunaikan tanggungjawab pada Allah, akan di beri pangkat yang besar di sisi Allah.

2. Sabar untuk mengelak diri daripada melakukan maksiat kepada Allah. Seorang hamba yang sudah terbiasa melakukan maksiat pada Allah amatlah sukar untuk meninggalkan maksiat itu. Oleh itu dia perlu bersabar dalam hal ini utk meninggalkan segala maksiat pada Allah. Contohnye dia slalu biasa melihat aurat perempuan adalah lebih baik melihat keindahan alam dan haiwan2 yang melata di muka bumi atau pun menonton TV daripada terus melihat aurat wanita.

3. Sabar untuk tidak membalas penghinaan/maki hamun manusia pada kita. Di sini juga termasuk dalam cabang dakwah. Maki hamun manusia pada kita mestilah di balas dengan kebaikan. Jika kita membalas dengan kejahatan yang sama pada nya, kita juga sama seperti mereka dan tidak mendapat walau sedikit kebaikan. Contohnya; jiran kita selalu membuang sampah di hadapan rumah kita, kita balas lah dengan kebaikan dengan cara memberi makanan kepada anak2 nya dan di bawa balik kepadanya, lambat laun dia akan sedar kalu dia org yg waras. Mungkin jiran kita tu ada penyakit hati disebabkan xbergaul dgn org sekeliling, jadi tanggungjwab kita untuk memberi didikan pada nya. Jika kita membalas dengan kejahatan juga, sama lah kita dengannya ,sama xwaras, dan sedikit kebaikan pn xdpt.

4. Sabar dengan bala (kematian, kerugian dalam perniagaan, bencana alam dsb). Manusia yang selalu bersabar dengan dugaan daripada Allah akan menjadi manusia yang kuat. Nabi Allah Muhamammad SAW dididik oleh Allah dengan begitu banyak dugaan sejak kecil lagi. Jom baca sejarah nabi semenjak kecil lagi, kematian ibu, bapa saundara, sejak kecil lagi mengembala kambing, dan macam2 lagi dugaan sejak nabi masih kecil lg. Bila dewasa nabi menjadi manusia yang kental n tabah dalam dakwahnya. Begitu juga anak2 yang dibesarkan dengan kesusahan kelak akan menjadi manusia yang cekal n tabah dalam menempuh dugaan2 hidup.

Allah Ta’ala sesungguhnya telah menyifatkan orang-orang yang sabar, dengan beberapa sifat. Ia menambahkan lebih banyak derajat dan kebajikan kepada sabar. Ia menjadikan derajat dan kebajikan itu sebagai hasil (buah) dari sabar. Maka Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

“Dan Kami jadikan di antara mereka itu beberapa pemimpin yang akan memberikan pimpinan dengan perintah Kami, yaitu ketika mereka berhati teguh (sabar)”. (QS. As-Sajadah : 24).

“Dan telah sempurnalah perkataan yang baik dari Tuhan engkau untuk Bani Israil, disebabkan keteguhan hati (kesabaran) mereka”. (QS Al A’raf : 137).

“Kepada orang-orang itu diberikan pembalasan (pokok) dua kali lipat, disebabkan kesabaran mereka”. (QS. Al Qashash : 54)

“Sesungguhnya orang-orang yang sabar itu, akan disempurnakan pahalanya dengan tiada terhitung”. (QS Az-Zumar : 10).


Maka tidak ada dari pendekatan diri manusia kepada Allah (ibadah), melainkan pahalanya itu ditentukan dengan kadar dan dapat dihitung, selain sabar. Dan sesungguhnya adanya puasa itu sebagian dari sabar dan puasa itu separuh sabar, maka Allah Ta’ala mengaitkan puasa itu bagi orang-orang yang bersabar, bahwa Ia bersama mereka.

“Hendaklah kamu bersabar, sesungguhnya Allah itu bersama orang-orang yang sabar”. (QS. Al-Anfal : 46).

“Ya! Kalau kamu sabar dan memelihara diri, sedang mereka datang kepadamu (menyerang) dengan cepatnya, Tuhan akan membantu kamu dengan lima ribu malaikat yang akan membinasakan”. (QS. Ali ‘Imran : 125).

Diriwayatkan Jabir, bahwa Nabi s.a.w ditanyakan tentang iman, maka Beliau menjawab: “Sabar dan suka memaafkan”.

Dikatakan bahwa Allah Ta’ala menurunkan wahyu kepada nabi Daud a.s.:

“Berakhlaklah dengan akhlak-Ku! Sesungguhnya sebagian dari akhlak-Ku, ialah, bahwa Aku Maha Sabar.”

Pada hadits yang diriwayatkan ‘Atha’ dari Ibnu Abbas, bahwa ketika Rasulullah s.a.w. masuk ke tempat orang-orang Anshar, lalu beliau bertanya:

“Apakah kamu ini semua orang beriman?”.

Semua mereka diam. Maka menjawab Umar r.a.: “Ya, wahai Rasulullah!”.

Nabi s.a.w. lalu bertanya: “Apakah tandanya keimanan kamu itu?”

Mereka menjawab: “Kami bersyukur atas kelapangan. Kami bersabar atas percobaan. Dan kami rela dengan ketetapan Tuhan (qadha Allah Ta’ala)”.

Lalu Nabi s.a.w. menjawab: “Demi Tuhan pemilik Ka’bah! Benar kamu itu orang beriman!”.

Nabi s.a.w. bersabda:

“Pada kesabaran atas yang tidak engkau sukai itu banyak kebajikan”.

Isa Al-Masih a.s. berkata:

“Engkau sesungguhnya tiada akan memperoleh apa yang engkau sukai, selain dengan kesabaranmu atas apa yang tiada engkau sukai”.

Adapun atsar, maka di antaranya ialah terdapat pada surat khalifah Umar bin al-Khatab r.a. kepada Abu Musa Al-Asy’ari r.a., yang bunyinya di antara lain:

“Haruslah engkau bersabar! Dan ketahuilah, bahwa sabar itu dua. Yang satu lebih utama dari yang lain: sabar pada waktu musibah itu baik. Dan yang lebih baik daripadanya lagi, ialah sabar (menahan diri) dari yang diharamkan Allah Ta’ala. Dan ketahuilah, bahwa sabar itu yang memiliki iman. Yang demikian itu, adalah bahwa takwa itu kebajikan yang utama. Dan takwa itu dengan sabar”.

Ali r.a. berkata pula:

“Sabar itu dari iman, adalah seperti kedudukan kepala dari tubuh. Tidak ada tubuh bagi orang yang tidak mempunyai kepala. Dan tidak ada iman, bagi orang yang tiada mempunyai kesabaran”.

Adalah Habib bin Abi Habib Al Bashari, apabila membaca ayat: “Sesungguhnya dia (Ayub) kami dapati, seorang yang sabar. Seorang hamba yang amat baik. Sesungguhnya dia tetap kembali (kepada Tuhan)” (QS. Shad : 44), lalu beliau menangis dan berkata: “Alangkah menakjubkan! Ia yang memberi dan Ia yang memujinya.”

No comments:

Post a Comment